Karya – Usia, 86 Tahun A.D. Pirous

Pameran Seni Rupa Lukisan, Gambar dan Grafis
A.D. Pirous
KARYA – USIA 
86 Tahun A.D. Pirous
13 Maret – 22 April 2018
Serambi Pirous Studio Galeri
Jl. Bukit Pakar Timur II/111 Bandung

Serambi Pirous memamerkan karya-karya A.D. Pirous periode tahun 1956-1986 dengan judul Karya-Usia yang merupakan koleksi 30 tahun karya awal. Pameran ini merupakan perayaan dan peringatan ulang tahun A.D Pirous yang ke-86 yang jatuh pada tanggal 11 Maret 2018.

 
Pameran ini mengajak kita memasuki mesin waktu melalui karya-karya dari Pirous yang dibuat pada saat usianya antara 23 sampai  54 tahun. Keseluruhan berjumlah 49 karya yang terdiri dari 29 lukisan, 1 gambar (drawing) dan 19 grafis. Periode ini dipilih karena alasan yang sangat sederhana. Ada baiknya seseorang melihat ke masa lalu untuk merefleksikan apa saja yang pernah dilakukan sampai nafas hari ini. Apa yang pernah dilewati, dicemaskan, dicintai memang adalah kenangan. Namun apa yang kita hadapi hari ini adalah hasil dari keputusan-keputusan yang dibuat pada masa lalu. Pameran ini adalah buku harian 30 tahun.

Di suatu masa tahun 1955, Pirous sedang meneguhkan kepercayaan dirinya. Dia bukan lagi seseorang yang dikenal pandai menggambar oleh teman-temannya di masa remaja, tapi seorang  mahasiswa baru saja menjadi pelukis. Ia sudah memutuskan menyeberang menuju Bandung. Kota yang penuh ketidakpastian juga penuh harapan karena di sana ada pendidikan seni rupa terbaik yang pernah ada yaitu ITB.

Periode menghabiskan masa muda di ITB adalah masa-masa mengukur diri dan melatih berbagai gaya dan aliran dengan penuh semangat. Masa-masa ini melukis adalah sesuatu yang riang, penuh warna-warni sekaligus masa melatih halusnya perasaan dan ketatnya komposisi. Semuanya itu dilakukan dengan semangat artistik-akademik yang datang dari  karya-karya Paul Klee, Jason Pollock dan Willem de Kooning sebagai tokoh kesukaan dan pencetus Ekspresionisme Abstrak nun jauh di sana.

 
Cakrawala Pirous masa itu adalah sejauh mata memandang. Dalam pemandangannya ada seni rupa Eropa dan Amerika yang ketat dengan tradisi Modernisme yang membentuk perspektif dan menyediakan segala konsep rupa yang dibutuhkan sebagai seorang pelukis di zaman modern tahun 1960-an. Pirous ingin mengambil sebanyak-banyaknya dari dunia untuk berkarya sepuas-puasnya di Bandung.

Pirous dalam lukisan dan grafis ini hatinya sangat bebas. Ia belum menceburkan diri ke persoalan-persoalan khas identitas diri yang menuntutnya harus bersikap sebagai pelukis berkebangsaan Indonesia. Karya-karya yang ditampilkan masih membawa cerita-cerita ketika dirinya belum terbentur oleh pertanyaankultural-politis yang menyikut kepercayaannya sebagai seorang humanis universal. Dengan kata lain, Ia belum harus bergumul dengan pertanyaan: “yang manakah diri saya: orang Aceh, orang Indonesia, atau seorang muslim?” Pertanyaan-pertanyaan yang kelak membentuk dirinya menjadi citra A.D. Pirous yang lebih kita kenal secara visual.

 
Deretan karya yang kita lihat hari ini adalah wajah identitasnya yang pertama. Justru di sini menariknya. Kita sedang menelusuri masa mudanya sebagai pelukis biasa yang sedang mempertajam bakat. Belum ada kebutuhan untuk mengambil nafas Aceh dalam tema-temanya. Kita tidak akan menjumpai kaligrafi Al Quran. Tidak juga akan menyaksikan fragmen peribahasa Melayu tentang pesan moral kehidupan dalam aksara latin. Atau sekumpulan aksara Cina, Jepang atau Hebrew sebagai aksen ikonik.Kita tidak akan menjumpai keheningan yang kudus atau pun suasana religius.

 
Sederhananya kita akan melihat hal memikat tentang tema sehari-hari yang lazim dipilih oleh setiap perupa di muka bumi. Ada seri tentang pemandangan, figur manusia, wajah, rumah, serta bentuk-bentuk eksperimen sulur-sulur organik dalam karya-karya grafisnya. Kita lebih akan menemukan sapuan-sapuan kuat dengan berbagai warna cerah yang bergairah  dari seorang pemuda yang ekspresif. Bisa dikatakan kita sedang melihat perjalanan karya-karya Pirous sebelum Ia menjadi seorang A.D. Pirous.
 
Iwan Pirous